Kota Banjarmasin, ibukota Provinsi Kalimantan Selatan, dijadikan sebagai model dalam pengelolaan Kota Tematik di Indonesia.
Dijadikannya Banjarmasin sebagai model Kota Tematik tersebut karena memiliki ciri khas yang tidak dimiliki wilayah lain.
Hal tersebut terungkap dari kesimpulan workshop Kota Tematik yang diselenggarakan Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR) selama dua hari yang berakhir, Kamis (29/10/2015), di Banjarmasin.
Workshop Kota Tematik yang dibuka Direktur Jenderal Tata Ruang Kementerian ATR Budi Situmorang tersebut diikuti berbagai peserta di tanah air.
Budi Situmorang menyebutkan, Banjarmasin termasuk kota yang unik yang termasuk kota pusaka yang menjadi warisan dunia.
Dengan pertimbangan itu, dipilihlah kBanjarmasin menjadi model penanganan kota tematik yang dikelola secara berkelanjutan dan akan menjadi rujukan bagi daerah lain jika ingin mengelola kota tematik tersebut.
Kota Banjarmasin dinilai tumbuh dan berkembang pada delta yang terbentuk dari pertemuan Sungai Barito dan Sungai Martapura serta dilintasi sekitar 107 sungai, anak sungai, dan kanal-kanal.
Kondisi itu menjadikannya dikenal sebagai Kota Sungai. Sungai-sungai tersebut membentuk karakter kota secara fisik, ekologi, budaya dan ekonomi.
Sejarah kota Banjarmasin bermula dari sebuah kampung yang berdiri pada 1582, merupakan bagian dari Kerajaan Banjar. Perkembangan Kerajaan Banjar tidak lepas dari lokasinya yang strategis yang didukung oleh sungai sebagai jalur transportasi dan ruang bagi aktivitas perdagangan sampai dengan saat ini.
Banjarmasin merupakan penghubung dengan wilayah pedalaman di Kalimantan Tengah, dan sebagai wilayah pesisir yang menjadi gerbang utama perniagaan di Kalimantan Selatan.
Walaupun citra Banjarmasin sebagai kota sungai masih tetap melekat, pada kenyataannya orientasi kehidupan masyarakatnya telah mengalami pergeseran yang lebih berorientasi ke darat.
Kondisi tersebut diikuti dengan adanya degradasi dan pelemahan terhadap elemen-elemen pembentuk karakter Kota Banjarmasin sebagai Kota Sungai.
Sungai sebagai urat nadi kehidupan masyarakat Banjarmasin meliputi aspek fisik (kualitas dan kuantitas fisik sungai), kologis (kehidupan ekosistem sungai), ekonomi (transportasi, pasar apung, nelayan, irigasi) dan sosial (kehidupan masyarakat sungai). Aspek-aspek itu merupakan komponen yang perlu penguatan dalam rangka mewujudkan Kota Banjarmasin sebagai kota tepi air.
Saat ini, kota-kota di Indonesia sedang fokus pada pengembangan Kota Tematik. Pengembangan konsep ini tidak hanya sebagai upaya untuk menampilkan karakter kotanya, tetapi juga untuk menjaga karakter kota dari berbagai ancaman dan degradasi.
0 comments:
Post a Comment